P.Siantar, 16 September 1987, merupakan tempat dan tanggal kelahiran ku.Aku merupakah hasil dari buah pernikahan pasangan dari Cut Hasbi dan Armayani. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Aku mempunyai tiga adik (cerdas, beretika, tangguh, serta patuh dan taat kepada Orangtua). Mereka adalah tiga LASKAR, yang akan mendobrak dunia dari ketidakpastiaan dan ketidakadilan.
Turunan dari Keturunan Orangtua ku :
Ayah: Cut HasbiMama:
Armayani
1.Zulhaiban, 16 September 1987
2.Arif Hifzul, 02 April 1991
3.Muhammad Azwin, 25 Agustus 1995
4.Fadli Fahrezi, 01 Maret 1999
Kami merupakan Keluarga Besar (KB), “sesuai dengan himbauan pemerintah untuk ber-KB”, dari sebuah wujud keharmonisan hubungan antara Ayah dan Mamaku. Keharmonisan itu, tampak dengan parameter buah hati yang dihasilkan oleh mereka Orangtua ku, dan izin serta kasihsayang dari Allah Yang Maha Segalanya, kepada mereka, dan kami anak-anaknya.
Aku sangat sayang dan bangga dengan keluarga ku (Ayah, Mama, dan Adik ku). Kami keluarga sederhana tanpa kemewahan yang berlebihan, dan merasa cukup dengan nikmat-nikmat Allah selama ini, kepada kami.
Sekarang diriku menuntut ilmu sebagai seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN bukan PNS), di salah satu daerah terkenal didunia akibat bencana Gempa & Tsunami-Nya. Daerah ini, juga terkenal akan sikap dari masyarakat yang seakan tidak ingin dikekang (fredom is Aceh) oleh kebijakan-kebijakan Pemerintah RI yang tak sesuai dengan Kearifan Lokal, hingga Aceh melakukan pemberontakan terhadap RI, 4 Desember 1976 hingga 15 Agustus 2005, yang kita kenal dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditokohi oleh M. Hasan di Tiro.
Aceh memang memiliki sejarah militansi dalam berperang. Hal itu tampak dari perang melawan orang-orang Portugis di tahun 1520-an dan menantang penjajah Belanda dari 1873 sampai 1913 serta melancarkan perlawanan demi Negara Islam terhadap Republik Indonesia di tahun 1953, yang dikenal dengan sebutan DI/TII.
Tetapi, di Nanggroe Pemberontak inilah aku mengalami kematangan berfikir, mendapatkan doktrin-doktrin kehidupan hingga terbentuk karakter sebuah individu yang jauh dari apa yang ku bayangkan masa lalu.
Pelajaran penting, penghargaan terhadap pengalaman, sedikit demi sedikit membentuk karakter diri yang dewasa, terpupuk ketika aku jauh dari kampung kelahiran, terbentuk ketika aku jauh dari cinta dan kasih Orangtua, dan tercipta ketika aku sendiri berjuang untuk menyandang gelar didunia pendidikan PTN UNSYIAH, hingga ku paham dan mengerti Siapa, Apa, dan Mengapa aku tercipta di DUNIA.Semoga aku masih diberikan kekuatan untuk selalu berjalan, maka inginku berjalan dijalan kebenaran dan keadilan dengan sinaran petunjuk yang aku pinta kepada TUHAN. Amiin. . . ! ! !