“Moral Knowing, Loving, and Moral Doing”

Oleh : Zulhaiban

“Anak-Anak Tidak Sopan Ke Pada Orang Tua Dan Orang Yang Lebih Tua, Kurang Peduli Terhadap Sesama, Kata-Kata Kotor Yang Jauh Dari Etika, Perselisihan Dan Tawuran Yang Dengan Sangat Cepat Mudah Terjadi, Pergaulan Bebas, Merokok Dan Narkoba Serta Moral – Moral Yang Tak Pernah Diajarkan Melalui Kurikulum Pengajaran”

Melihat pendidikan kita, rasanya masih teramat jauh dari hal yang diinginkan oleh orangtua peserta didik, maupun para pendidik tersebut yang mendidik para didikan. Didikan – didikan yang di didik di Negeri ini,  tidaklah memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan, malah memberikan nilai minus di wajah para pendidiknya. Tujuan utama pendidikan yang selama ini terabaikan atau gagal tercapai adalah pembentukan karakter (character building). Pengabaian atau kegagalan ini dapat dilihat dari tingginya angka kenakalan remaja dari tahun ke tahun. Anak-anak tidak sopan ke pada orang tua dan orang yang lebih tua, kurang peduli terhadap sesama, kata-kata kotor yang jauh dari etika, perselisihan dan tawuran yang dengan sangat cepat mudah terjadi, pergaulan bebas, merokok dan narkoba serta moral – moral yang tak pernah diajarkan melalui kurikulum pengajaran. Dan hal ini adalah pemandangan umum yang hampir pasti kita temukan di mana saja kita menemukan remaja.

Dalam pandangan Islam, pembentukan karakter (character building) ini sudah sangat jelas ditegaskan oleh Rasulullah SAW sebagai misi kerasulannya. Bahkan dalam kajian yang lebih dalam yang dilakukan para ulama klasik dan kontemporer disimpulkan,  bahwa akhlak mulia sebagai hasil dari character buillding adalah jantung ajaran Islam. Maka tak diragukan lagi pembentukan akhlak mulia merupakan tujuan tertinggi bagi setiap lembaga pendidikan Islam. Namun dalam kenyataannya, banyak lembaga pendidikan Islam baik yang berlabel pesantren maupun madrasah tidak menunjukkan hal menggembirakan dalam masalah ini.

Tak hanya moral yang hancur, bahkan ilmu pengetahuan umum para pendidik sama seperti moral para remaja sekarang, dan tak ayalnya seperti moral “hewani” bahkan pengetahuan juga terbatas “masih seperti keledai” yang terjatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya, bahkan bisa lebih dari itu. Tanyakan kenapa…???

Inilah wajah pendidikan kita, metode pembelajaran yang diberikan tidak dapat memberikan dampak terhadap perubahan moral menuju akhlak mulia. Pendidikan karakter menuju terbentuknya akhlak mulia dalam diri setiap siswa tidak ada dalam kurikulum, yang ada malah PMP (pendidikan moral pancasila), dan lari dari keinginan sebab karena PMP mengajarkan kepada siswa/I untuk tahu apa itu Pancasila dan menghafal segulumit rumitnya UUD 1945, gimana pembelajaran akhlak didapat??? Kalau di Pancasila disebutkan keadilan bagi seluruh rakyat, dan siswa/I melihat keadaan itu berbeda dengan realitasnya, bagaimana mau menerapkannya??? Toh contohnya ngak pernah ada.

Sebenarnya ada beberapa metode yang harus dilalui untuk mencapai moral dan akhlak yang mulia. Tahapan itu merupakan pembelajaran yang harus dilakukan dari semua element untuk system belajar dan mengajar untuk menciptakan siswa/I bermoral serta berakhlak mulia, syarat itu adalah :

  1. Moral Knowing. Tahapan ini merupakan langkah pertama dalam pendidikan karakter. Dalam tahapan ini tujuan pembelajaran akhlak adalah. Siswa mampu membedakan nilai-nilai akhlak mulia dan akhlak tercela. Siswa memahami secara logis dan rasional (bukan secara dogmatis dan doktriner) pentingnya akhlak mulia dan bahaya akhlak tercela dalam kehidupan. Siswa mengenal seorang sosok yang benar – benar memiliki akhlak mulia serta moral yang tinggi, menurut saya sosok Nabi Muhammad saw sebagai figur teladan akhlak mulia cocok sebagai panutan bagi mereka, yang dapat dipanut melalui tingkah laku maupun perkataan beliau.
  2. Moral Loving. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Dalam tahapan ini yang menjadi sasaran guru adalah dimensi emosional siswa, hati, atau jiwa, bukan lagi akal, rasio dan logika. Guru menyentuh emosi siswa sehingga tumbuh kesadaran, keinginan dan kebutuhan sehingga siswa mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Iya, saya harus seperti itu…” atau “Saya perlu mempraktekkan akhlak ini…” Untuk mencapai tahapan ini guru bisa memasukinya dengan kisah-kisah yang menyentuh hati, modeling, atau kontemplasi. Melalui tahap ini pun siswa diharapkan mampu menilai dirinya sendiri (muhasabah), semakin tahu kekurangan-kekurangannya.
  3. Moral Doing. Inilah puncak keberhasilan mata pelajaran akhlak, siswa mempraktekkan nilai-nilai akhlak mulia itu dalam perilakunya sehari-hari. Siswa menjadi semakin sopan, ramah, penyayang, jujur, disiplin, dan seterusnya.

Selama perubahan akhlak belum terlihat dalam perilaku anak walaupun sedikit, selama itu pula kita memiliki setumpuk pertanyaan yang harus selalu dicari jawabannya. Maka untuk menjawab semua itu, diperlukan dari kita menerapakan system pendidikan yang dapat menciptakan moral serta akhlak yang mulia. Metoda penerapan diatas merupakan, salah satu metode untuk menciptakan moral dan akhlak mulia, oleh sebab itu metode diatas dapat berguna bagi kita dalam mencapai suatu moral yang berakhlak mulia. Amin… (*dbs*).

Iklan
Categories: Opini | Tag: , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on ““Moral Knowing, Loving, and Moral Doing”

  1. Schon die Auftaktetappe in Leeds mit der zu erwartenden Massenankunft könnte für den Blondschopf maßgeschneidert
    sein.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: