Seorang Tua Renta

Terbujur kaku jasad seorang wanita miskin di ruang bangsal rumah sakit megah di kota ku. Tak ada sanak atau famili yang menjenguk sesosok tua legam nan hitam tersebut. Dia sendiri seakan tak memiliki seorangpun didunia.

Impus yang menggantung dengan jarum yang ditusukkan ditangan, membuat dia terlihat lusuh. Sedih, tanpa semangat diraut wajah tergambar sempurna dengan tetesan airmata yang membasahi wajah legamnya itu. seorang tua yang tak mempunyai anak dan famili diwaktu usia renta.

Tatapan kosong, diarahkannya kepada ku saat menjeguk teman yang orangtuanya juga sakit. Ku balas tatapan tersebut dengan senyuman, dan kembali senyuman dilemparkannya kepada ku. Seraya bibirnya berucap yang tanpa terdengar, Ia berbicara “nak duduk sini nak, temani Ibu yang sendiri”.

 

Oleh : Zulhaiban

Iklan
Categories: Opini, Renungan dan Kisah Inspiratif | Tag: , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Seorang Tua Renta

  1. Mein Weg ist ein anderer, sehr effizienter, durch den ich auch mit fast 44 noch mehr Power und Körperspannung habe, als
    ich sie in jungen Jahren je hatte.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: